TENJOLAYA, 27 Agustus 2026 — Di Balai Benih Ikan Kelas A, Cibitung Tengah, Kecamatan Tenjolaya, suasana terasa hangat dan penuh kekeluargaan pada Kamis pagi ini. Bukan sekadar pertemuan biasa, kegiatan sarasehan konflik sosial yang digelar di sini menjadi bukti: ketika semua pihak bersedia duduk berdampingan dan saling mendengarkan, tidak ada perbedaan yang tidak bisa dijembatani.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Babinsa Desa Gunung Mulya yang mewakili Danramil 2114/Ciampea, dengan tujuan menciptakan ruang dialog terbuka untuk mengurai potensi gesekan sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Hadir dalam pertemuan ini Camat Tenjolaya, unsur Muspika, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta warga dari berbagai unsur di wilayah tersebut.
Dialog di Tempat yang Tak Biasa, dengan Semangat yang Luar Biasa
Bertempat di Balai Benih Ikan Kelas A, Cibitung Tengah—sebuah lokasi yang melambangkan pertumbuhan dan kelestarian—dialog pun mengalir dengan jujur dan terbuka. Camat Tenjolaya, Dr. Apid Junaidi, SSTP., M.S.I., membuka kegiatan dengan menekankan bahwa penyelesaian masalah harus selalu mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok maupun individu.
"Kita berkumpul di sini bukan untuk mencari siapa yang benar atau siapa yang salah, melainkan mencari jalan keluar yang paling baik untuk kita semua. Balai Benih Ikan ini punya filosofi indah: dari benih yang kecil, jika dirawat bersama, akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar dan bermanfaat. Begitu pun kedamaian di Tenjolaya—benihnya harus kita tanam setiap hari, dijaga bersama, dan tidak boleh ada yang merusaknya, " ujar Dr. Apid Junaidi, SSTP., M.S.I. dengan tegas namun ramah.
Babinsa di Tengah Warga: Hadir, Mendengar, Menjadi Jembatan
Mewakili Danramil 2114/Ciampea, Serda M. Mu'arifin, Babinsa Desa Gunung Mulya, menyampaikan bahwa kehadiran pihak TNI di tingkat desa bukan untuk memberi perintah, melainkan menjadi pendengar sekaligus perekat antarwarga.
"Saya setiap hari berkeliling, bertemu Bapak dan Ibu sekalian. Saya tahu persis apa yang dirasakan warga—mulai dari kekhawatiran sehari-hari hingga hal-hal yang kadang susah diucapkan. Sarasehan di Balai Benih Ikan ini adalah wujud kehadiran kami. Kami tidak memihak siapa pun, kami berpihak pada kedamaian. Jika ada kesalahpahaman, mari kita luruskan di meja dialog, jangan sampai tumbuh menjadi konflik yang merugikan semua pihak, " ungkap Serda M. Mu'arifin, disambut anggukan warga yang hadir
Komitmen Berjenjang: Dari Koramil Hingga Pangdam
Kegiatan ini juga mencerminkan komitmen berjenjang jajaran TNI dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat melalui pendekatan yang humanis dan persuasif. Danramil 0621-14/Ciampea, Kapten Arm Agus RZ, menegaskan bahwa pendekatan kekeluargaan adalah fondasi utama dalam menangani masalah di tingkat masyarakat.
"Kekuatan terbesar kami bukan pada senjata, melainkan pada kepercayaan warga. Selama kita tetap dekat dan saling percaya, sekecil apa pun potensi konflik bisa didamaikan sebelum meluas. Sarasehan seperti inilah yang menjadi bukti bahwa kedamaian itu dibangun dari bawah, dari desa, dari hati masyarakat, " tegas Kapten Agus.
Semangat ini sejalan dengan arahan Dandim 0621/Kabupaten Bogor, Letkol Inf Rizal Dwijayanto, S.E., M.I.P., yang selalu menekankan pentingnya kehadiran TNI yang solutif dan menyentuh akar masalah.
"Konflik sosial itu sering kali bermula dari hal-hal kecil yang tidak tersampaikan dengan baik—salah paham, kurang komunikasi, atau suara yang tidak didengar. Tugas kita adalah memastikan saluran komunikasi tetap terbuka lebar. TNI hadir untuk rakyat, bersama rakyat, dan menyelesaikan masalah rakyat secara bersama-sama, " ujar Letkol Rizal.
Di tingkat yang lebih luas, Danrem 061/Suryakancana, Brigjen TNI Thomas Rajunio, menilai kegiatan semacam ini adalah fondasi keamanan yang paling kokoh dan berkelanjutan.
"Keamanan yang dibangun di atas kesepahaman dan kekeluargaan jauh lebih kuat dibanding sekadar pengamanan fisik. Sarasehan di Balai Benih Ikan Cibitung Tengah ini adalah contoh nyata bahwa kedamaian dimulai dari desa, dimulai dari diri sendiri, dimulai dari duduk bersama. Semoga langkah kecil ini menjadi inspirasi bagi wilayah-wilayah lain, " ungkap Brigjen Thomas.
Sementara itu, Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Kosasih, S.E., M.M., memberikan apresiasi yang tinggi atas inisiatif yang turun langsung ke masyarakat.
"Prajurit terbaik adalah yang paling dicintai rakyatnya. Kegiatan seperti inilah yang membuktikan bahwa TNI bukan sekadar pengawal kedaulatan di perbatasan, tapi juga penjaga kedamaian di setiap sudut desa dan pelosok negeri. Menyelesaikan konflik dengan dialog adalah kebijaksanaan yang harus terus kita jaga, kembangkan, dan wariskan kepada generasi mendatang, " tutur Mayjen Kosasih.
Apa Hasil yang Disepakati?
Dalam sarasehan ini, semua pihak yang hadir menyepakati beberapa hal penting
- Memperkuat saluran komunikasi antarwarga dan antarunsur masyarakat secara berkala
- Menjadikan forum dialog seperti ini sebagai agenda rutin, bukan hanya saat masalah muncul
- Mengaktifkan kembali peran tokoh masyarakat dan tokoh agama sebagai penengah pertama di tingkat desa
- Menjaga nama baik dan keharmonisan bersama di lingkungan masing-masing
Kegiatan ini mengingatkan kita satu hal sederhana namun sering terlupakan: banyak konflik terjadi bukan karena perbedaan yang terlalu besar, melainkan karena kita terlalu jarang duduk bersama dan saling mendengarkan.
Tenjolaya telah membuktikan bahwa ketika semua pihak berniat baik, duduk dalam satu meja di Balai Benih Ikan yang sederhana namun bermakna, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.

Muhamad Muarifin